Senin, 10 Agustus 2009

PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA

penulis  : Putri  Dwi  Ayu P

Kata budaya sangat umum dipergunakan dalam bahasa sehari-hari. Paling sering budaya dikaitkan dengan pengertian ras, bangsa atau etnis. Kata budaya juga kadang dikaitkan dengan seni, musik, tradisi-ritual, atau peninggalan-peninggalan masa lalu. Sebagai sebuah entitas teoritis dan konseptual, budaya membantu memahami bagaimana kita berperilaku tertentu dan menjelaskan perbedaan sekelompok orang. Sebagai sebuah konsep abstrak, lebih dari sekedar label, budaya memiliki kehidupan sendiri, ia terus berubah dan tumbuh, akibat dari pertemuan-pertemuan dengan budaya lain, perubahan kondisi lingkungan, dan sosiodemografis. Budaya adalah produk yang dipedomani oleh individu-individu yang tersatukan dalam sebuah kelompok. Budaya menjadi pengikat dan diinternalisasi individu-individu yang menjadi anggota suatu kelompok, baik disadari maupun tidak disadari.
Pada awal perkembangannya, ilmu psikologi tidak menaruh perhatian terhadap budaya. Baru sesudah tahun 50-an budaya memperoleh perhatian. Namun baru pada tahun 70-an ke atas budaya benar-benar memperoleh perhatian. Pada saat ini diyakini bahwa budaya memainkan peranan penting dalam aspek psikologis manusia. Oleh karena itu pengembangan ilmu psikologi yang mengabaikan faktor budaya dipertanyakan kebermaknaannya. Triandis (2002) misalnya, menegaskan bahwa psikologi sosial hanya dapat bermakna apabila dilakukan lintas budaya. Hal tersebut juga berlaku bagi cabang-cabang ilmu psikologi lainnya.
Sebenarnya bagaimana hubungan antara psikologi dan budaya? Secara sederhana Triandis (1994) membuat kerangka sederhana bagaimana hubungan antara budaya dan perilaku sosial,
Ekologi - budaya - sosialisasi - kepribadian – perilaku 
Sementara itu Berry, Segall, Dasen, & Poortinga (1999) mengembangkan sebuah kerangka untuk memahami bagaimana sebuah perilaku dan keadaan psikologis terbentuk dalam keadaan yang berbeda-beda antar budaya. Kondisi ekologi yang terdiri dari lingkungan fisik, kondisi geografis, iklim, serta flora dan fauna, bersama-sama dengan kondisi lingkungan sosial-politik dan adaptasi biologis dan adaptasi kultural merupakan 
dasar bagi terbentuknya perilaku dan karakter psikologis. Ketiga hal tersebut kemudian akan melahirkan pengaruh ekologi, genetika, transmisi budaya dan pembelajaran budaya, yang bersama-sama akan melahirkan suatu perilaku dan karakter psikologis tertentu.
Pada umumnya penelitian psikologi lintas budaya dilakukan lintas negara atau lintas etnis. Artinya sebuah negara atau sebuah etnis diperlakukan sebagai satu kelompok budaya. Dari sisi praktis, hal itu sangat berguna. Meskipun hal tersebut juga menimbulkan persoalan, apakah sebuah negara bisa diperlakukan sebagai satu kelompok budaya bila didalamnya ada ratusan etnik seperti halnya indonesia? Dalam posisi seperti itu, penggunaan bahasa nasional yakni bahasa indonesia menjadi dasar untuk menggolongkan seluruh orang indonesia ke dalam satu kelompok budaya. Pada akhirnya tidak ada kategori kaku yang bisa digunakan untuk melakukan pengelompokan budaya. Apakah batas-batas budaya itu ditandai dengan ras, etnis, bahasa, atau wilayah geografis, semuanya bisa tumpang tindih satu sama lain atau malah kurang relevan.
Sebuah definisi mengenai budaya dalam konteks psikologi lintas budaya diperlukan guna pemahaman yang sama mengenai apa yang dimaksud budaya dalam psikologi lintas budaya. Culture as the set of attitudes, values, belifs, and behaviors shared by a group of people, but different for each individual, communicated from one generation to the next (Matsumoto, 1996). Definisi Matsumoto dapat diterima karena definisi ini memenuhi semua perdebatan sebelumnya; budaya sebagai gagasan, baik yang muncul sebagai perilaku maupun ide seperti nilai dan keyakinan, sekaligus sebagai material, budaya sebagai produk (masif) maupun sesuatu (things) yang hidup (aktif dan menjadi panduan bagi individu anggota kelompok. Selain itu, definisi tersebut menggambarkan bahwa budaya adalah suatu konstruk sosial sekaligus konstruk individu.

Konsep Psikologi Lintas Budaya
Psikologi lintas budaya adalah cabang psikologi yang (terutama) menaruh perhatian pada pengujian berbagai kemungkinan batas-batas pengetahuan dengan mempelajari orang-orang dari berbagai budaya yang berbeda. Dalam arti sempit, penelitian lintas budaya secara sederhana hanya berarti dilibatkannya partisipasian dari latar belakang kultural yang berbeda dan pengujian terhadap kemungkinan-kemungkinan adanya perbedaan antara para partisipan tersebut.
Dalam arti luas, psikologi lintas budaya terkait dengan pemahaman atas apakah kebenaran dan prinsip-prinsip psikologis bersifat universal (berlaku bagi semua orang di semua budaya) ataukah khas budaya (culture spscific, berlaku bagi orang-orang tertentu di budaya-budaya tertentu) (Matsumoto, 2004).
Menurut Seggal, Dasen, dan Poortinga (1990) psikologi lintas budaya adalah kajian ilmiah mengenai perilaku manusia dan penyebarannya, sekaligus memperhitungkan cara perilaku itu dibentuk, dan dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan sosial dan budaya. Pengertian ini mengarahkan perhatian pada dua hal pokok, yaitu keragaman perilaku manusia di dunia, dan kaitan antara perilaku individu dengan konteks budaya, tempat perilaku terjadi.
Terdapat beberapa definisi lain (menekankan beberapa kompleksitas), antara lain:
a. Menurut Triandis, Malpass, dan Davidson (1972) psikologi lintas budaya mencakup kajian suatu pokok persoalan yang bersumber dari dua budaya atau lebih, dengan menggunakan metode pengukuran yang ekuivalen, untuk menentukan batas-batas yang dapat menjadi pijakan teori psikologi umum dan jenis modifikasi teori yang diperlukan agar menjadi universal. 
b. Menurut Brislin, Lonner, dan Thorndike, 1973) menyatakan bahwa psikologi lintas budaya ialah kajian empirik mengenai anggota berbagai kelompok budaya yang telah memiliki perbedaan pengalaman, yang dapat membawa ke arah perbedaan perilaku yang dapat diramalkan dan signifikan. 
c. Triandis (1980) mengungkapkan bahwa psikologi lintas budaya berkutat dengan kajian sistematik mengenai perilaku dan pengalaman sebagaimana pengalaman itu terjadi dalam budaya yang berbeda, yang dipengaruhi budaya atau mengakibatkan perubahan-perubahan dalam budaya yang bersangkutan.

Setiap definisi dari masing-masing ahli di atas, menitikberatkan ciri tertentu, seperti misalnya pertama, gagasan kunci yang ditonjolkan ialah cara mengenali hubungan sebab-akibat antara budaya dan perilaku. Kedua, berpusat pada peluang rampat (generalizabiliti) dari pengetahuan psikologi yang dianut. Ketiga lebih menitikberatkan pengenalan berbagai jenis pengalaman budaya. Kempat, mengedepankan persoalan perubahan budaya dan hubungannya dengan perilaku individual. Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa psikologi lintas budaya adalah psikologi yang memperhatikan faktor-faktor budaya, dalam teori, metode dan aplikasinya.


Daftar Pustaka

http://jebhy.blogspot.com/2008/11/psikologi-lintas-budaya.html

http://smartpsikologi.blogspot.com/2007/08/apakah-budaya.html

ORANG “DISINI DAN KINI”

penulis  : Putri Dwi Ayu P

Pada tahun 1936, Fritz Perls (1893-1970), seorang ahli psikoanalisis yang berusia 43 tahun, bepergian 4000 mil dari tempat kediamannya di Afrika Selatan untuk suatu pertemuan yang sudah lama diharapkan dengan Sigmun Freud. Saat itu adalah kongres Psikoanalitis tahunan yang diadakan di Cekoslowakia. Perls merasa senang dengan perjalanan dan dengan makalah yang direncanakan untuk disajikan. Dia sudah menulis apa yang di anggapnya suatu sumbangan , bahakan suatu perbaiakan terhadap psikoanalisis, dan dia ingin sekali melihat bagaimana kawan-kawannya akan menerimanya.
Usaha itu berubah menjadi malapetaka yang memalukan Perls. Makalahnya tidak diterima dengan antusias, ide-ide yang baru tidak diterima dengan baik oleh kelompok psikoanalitis ortodoks. . Wilhelm Reich yang pernah menjadi analis Perls dan telah banayak membantunya, hampir tidak menghiraukan kehadiranya. Tetapi pukulan yang hebat datang dari Freud sendiri. Perls pergi dengan perasaan hancur dan malu, merasa diremehkan dan dihina, perasaan ini berubah menjadi marah.
Pertemuan dengan Freud memberi kesan yang tidak hilang-hilang pada Perls. Dan sebagai akibatnya ia menjadi “seorang laki-laki yang sanagt berbeda”. Hal ini menimbulkan seluruh reorientasi dalam kehidupan yang professional dan pribadinya. Perls kini membuang kepercayaan-kepercayaan yang terdahulu dan mengalami suatu kebebasan yang timbul tiba-tiba dari paksaan-paksaan yang membimbingnya pada masa lampau. Dia memutuskan untuk tidak membutuhkan bantuan dari sumber apapun di luar dirinya sendiri, dia tidak akan lagi tergantung pada sistem-sitem spiritual, moral, dan intelektual yang telah digunakan sebelumnya. Disini awal dari kesadarannya yang menandai hakikat dari terapi Getlatnya yaitu : “Saya harus mengambil seluruh tanggung jawab terhadap kehidupan saya sendiri “
Perls merupakan seorang ahli psikoanalisis yang pertama dari Afrika Selatan , praktik dari perls sangat berhasil dan dia berkelimpahan dalam semua kebutuhan dari keberhasilan materi dalam tingkat kelas menengah. Meskipun Perls dan istrinya hidu bersama tetapi mereka memiliki jalan masing karena Perls berusaha menambah keretakan emosional antara dirinya dan keluarga. Dia menjadi kasar dan lekas marah, bermain cinta dengan babu penjaga anaknya, menerjunkan dirinya dalam film-film dan sandiwara-sandiwara amatir, mengembangkan teori dan terapinya.
Dalam sisa hidupnya, Perls melakauakn halnya sendiri dia mempraktikan apa yang diajarkan dan, dalam proses, ia menjadi ahli terapi, pedoman dan inspirasi bagi beratus-ratus orang yang mengenalnya, dan bagi beribu-ribu orang yang mengikuti petunjuk-petunjuknya untuk kehidupan. Salah satu hal yang mungkin diakui oleh pengikut-pengikut serta pengumpat-pengumpatnya ialah bahwa Perls merupakan seorang individu yang bersemangat dan eksentrik 
Menurut seorang psikiater dan pengikut terapi Gestalt, yang pernah menulis biografi tentang Perls, menggambarkan di usianya yang 70an dia terlihat seperti “Jipsi” dan seorang pencari pengalaman-pengalaman baru, dia mengalami adegan obat bius,, adegan zen, dan masih kuat dengan adegan seks. Popularitas yang luar biasa tidak semata-mata berdasarkan cara dia melihat dan bertindak , tetapi brdasarkan nasehat untuk hidup “di sini dan kini”, untuk menjadi diri sendiri, yang menimbulkan perasaan tanggap dalam sejumlah besar orang yang berjuang untuk menemukan suatu pusat yang baru bagi kehidupan mereka disaat pusat-pusat dan nilai-nilai lama sudah hancur. 
A. Pendekatan Perls terhadap kepribadian : Terapi Gestalt
Pendekatan Perls terhadap kepribadian merupakan suatu bentuk terapi dan bukan teori tentang kodrat kepribadian. Kata yang paling tepat untuk memulainya adalah “Gestalt” dimana Gestalt adalah suatu kata yang berasal dari jerman dan dapat diterjemahkan dengan bentuk, wujud, dan organisasi. Kata ini mengandung pengertian kebulatan atau keparipurnaan. Psikologi Gestalt pada umumnya berbicara mengenai cara bagaimana kita mengamati dunia sekitar. Ahli-ahli psikologi Gestalt percaya bahwa persepsi kita ada sangkut pautnya dengan keseluruhan atau pola-pola yang terorganisasi. Disini terapi Gestalt tidak lang sung berasal dari Psikologi Gestalt. 
Masih tetap pada kata “Gestalt” Perls menggunakan kata itu untuk menerangkan satu-satunya hukum tentang fungsi manusia yang tetap dan universal yakni, setiap organism cenderung mengalah kepada kebultan atau paripurnaan. Segala sesuatu yang yang mencegah atau mengacaukan Gestalt ini membahayakan organisme dan menimbulkan apa yang disebut Perls “Situasi yang belum selesai” (Unfinished Situation), yang tentu saja perlu diselesaikan (menjadi bulat atau paripurna). Suatu keseimbangan dalam organism harus dijaga demi kepentingan kesehatan psikologis, dan apabila kita mengalami ketidak seimbangan, maka kita terdorong untuk memperbaikinya. 
Perls mengemukakan bahwa kita didorong oleh situasi-situasi yang belum selesai atau Gestalt-gestalt yang tidak paripurna. Kita masing-masing memiliki sangat banyak situasi yang belum selesai dalam diri kita, mungkin banyak beratus-ratus , dan mungkin kelihatannya kita akan bingung tanpa harapan. Kita menyelesaikan Gestalt-gestalt ini dengan cara yang teratur, karena kita menyusunnya menurut tingkat kepentingan. Situasi yang sangat urgen menjadi pengontrol dan pengtaur yang dominan terhadap pikiran dan tingkah laku kita samapai situasi itu dipuaskan.
Salah satu segi yang penting dalam menghadapi situasi-situasi yang belum selesai ialah peraturan terhadap diri sendiri versus peraturan dari luar, orang yang sehat dapat mengatur diri mereka sendiri, tanpa ada campur tangan kekuatan-kekuatan dari luar, biarpun itu kebutuhan dan tuntutan dari orang –orang lain atau kritikan-kritikan dari undangan-undangan sosial. Perls percaya bahwa hanya kesadaran diri dapat mnimbulkan perkembangan dan pertumbuhan kepribadian yang sehat. Perls juga mempercayai bahwa terlalu banyak orang yang telah di ajar oleh orang tua dan kebudayaan mereka untuk mengekang impuls-impuls mereka , dan akibatnya mereka takut mengungkapkan. Sekalipun demikian, impuls-impuls yang dikekang itu tidak begitu saja hilang, impuls-impuls itu menjelma dalam cara-cara lain. 
Segi lain dari pendekatan Perls terhadap kepribadian ialah fokus pada masa sekarang sebagai satu-satunya kenyataan. Dia percaya bahwa tidak satupun ada dari kita, selain disini dan kini. Masa lampau tidak ada lagi dan masa depan belum ada. Ingatan-ingatan kita terhadap masa lampau dan antisipasi-antisipasi kita terhadap masa depan hanya di alami pada saat sekarang. Mereka yang merasa demikian sedang hidup dalam waktu yang tidak riil atau belum riil, mengorbankan masa sekarang untuk waktu yang tidak ada. 
Apabila kita tidak memilki pemahaman yang tidak memadai tentang diri kita di sini dan kini, kita terdorong untuk melarikan diri ke masa lampau atau masa depan. Kedua langkah tersebut berbahaya terhadap perkembanagn manusia yang penuh, seperti:
1. Kita hidup pada masa lampau (watak retrospektif) dimana kita menjadi sentimental tentang suatu periode dalam kehidupan atau kita menyalahkan orang tua atas segala hal. Kita dapat menyalahkan orang tua sepanjang hidup, mengganggap mereka bertanggung jawab terhadap masalah-masalah kita. Dalam hal ini kita masih berpikir tentang diri kita sebagai anak-anak, bukan sebagai orang-orang dewasa yang bertanggung jawab terhadap atau bagi diri kita sendiri. Untuk menyempurnakan Gestalt, kita harus melepaskan pegangan pada orang tua. 
2. Kita hidup pada masa depan (watak prospektif) dimana kita menjadi seseorang yang penuh dengan khayalan-khayalan tentang sesuatu yang akan datang tidak lebih riil daripaad ingatan-ingatan terhadap masa lampau. Apabila pandangan dan harapan kita terhadap masa depan tidak terpenuhi, maka kita akan kecewa dan tidak bahagia dan juga dapat menyalahkan orang-orang lain atau situasi-situasi atau “merasa malang” atas nasib kita .
Disini dan kini adalah satu-satunya kenyataan yang kita miliki dan kita harus memikul tanggung jawab untuk membenamkan diri kita sepenuhnya dalam setiap saat dan mengambil kegunaannya dari pengalaman-pengalamannya. Meskipun Perls mengemukakan bahwa kita harus hidup sepenuhnya pada masa sekarang, namun dia tidak mempertahankan bahwa kita sama sekali membuang ingatan kita atau pandanagn kita pada masa depan. Masa lampau mengandung situasi-situasi yang belum selesai yang harus kita selesaikan, pengalaman-pengalaman yang menggembirakan yang menyenangkan kalau di ingat kembali, dan pengalaman-pengalaman yang adapt membantu kita untuk menyesuaikan diri dengan masa sekarang. Kita harus menyadari masa lampau tetapi kita tidak boleh hidup disana. 
Demikian juga halnya dengan masa depan. Kita harus membuat rencana untuk masa depan , sebab kalau tidak kita tidak dapat tumbuh, tetapi kita tidak boleh memakai perencanaan itu sebagai suatu pengganti untuk masa sekarang.

Komat kamit

 
Blognya Orang Sotoy Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template